Ipal Potong Ayam

Konsumsi daging ayam meningkat pesat dibandingkan dengan
daging sapi, kambing ataupun babi. Kebutuhan daging ayam lebih tinggi
dibanding daging lain dikarenakan harga daging ayam relatif murah.

Dagingayam juga lebih baik dari segi kesehatan karena hanya mengandung sedikit
lemak dan lebih kaya protein bila dibandingkan dengan daging sapi.

Daging ayam mempunyai rasa yang dapat diterima semua golongan masyarakat dan
cukup mudah dilolah menjadi produk olahan yang bernilai tinggi.Tingginya kebutuhan daging ayam tentunya memunculkan usaha- usahapeternakan ayam potong danusahapemotongan ayam untukmencukupi kebutuhan masyarakat.

Usaha Rumah Pemotongan Ayam (RPA)Adi Indonesia telah menjadi sebuah kegiatan industri kecil yangperkembangannya memberikan kontribusi nyata dalam sektor ekonomi dari sektor hulu sampai ke sektor hilir. Hal ini dikarenakan produk unggas yang termasuk ayam, yakni daging ayam dan telur harganya relatif murah dan
mudah di dapatkan sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat luas (Singgih
dan Kariana, 2008). Sebagian besar produsen daging ayam di Indonesia masih
menerapkan pemotongan ayam secara tradisional dengan tempat pemotongan
yang seadanya. Pemotongan ayam secara modern dengan peralatan yang
canggih memerlukan biaya yang sangat tinggi sehingga tidak terjangkau oleh
para pengusaha pemotongan tradisional atau pengusaha kecil.

Namun seiring kemajuan teknologi yang meningkat dan
berkembangnya kegiatan industri pemotongan ayam akan membawa dampak
positif maupun negatif bagi lingkungan. Keberadaan industri rumah
pemotongan ayam dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.

Di samping itu, dengan adanya rumah pemotongan ayam menghasilkan limbah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Limbah yang dihasilkan dari kegiatan
rumah potong ayam menimbulkan masalah yang signifikan terhadap
lingkungan, terutama usaha pemotongan yang berada di tengah-tengah
pemukiman warga. Hal tersebut mengakibatkan dampak sosial maupun
dampak terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya. Muncul kekhawatiran
warga terhadap wabah flu burung. Selain itu, terjadi peningkatan polusi air
dan udara, yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas sanitasi lingkungan.

Dalam proses kegiatannya terdapat produk sampingan yaitu berupa
limbah, baik limbah padat maupun limbah cair. Dengan meningkatnya jumlah
konsumsi daging ayam akan berdampak pada meningkatnya air limbah yang
dihasilkan industri Rumah Pemotongan Ayam (RPA) (Al Kholif, 2015).

Limbah cair tersebut dapat mencemari lingkungan apabila dibuang langsung
ke lingkungan karena limbah tersebut mengandung bahan organik yang tinggi
dan bakteri patogen maupun yang non patogen.

Guna memenuhi kebutuhan daging yang Aman, Sehat Utuh dan Halal
(ASUH) maka pemotongan harus dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH).
Salah satu persyaratan teknis yang diatur dalam (SNI) 01-6160-1999 tentang
persyaratan rumah potong hewan dan unit penanganan daging adalah, bahwa
lokasi rumah potong hewan tidak menimbulkan gangguan atau pencemaran
lingkungan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999, limbah
didefinisikan sebagai sisa atau buangan dari suatu usaha dan/atau kegiatan
manusia. Sedangkan definisi air limbah menurut Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 air limbah adalah sisa dari suatu
hasil usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair. Dengan demikian, setiap
limbah yang dihasilkan perlu dikelola secara baik berdasarkan
karakteristiknya agar dapat menurunkan kualitas bahan pencemar yang
terkandung didalamnya dan aman di buang ke lingkungan sehingga tidak
menimbulkan pencemaran serta penurunan kualitas lingkungan.

Rumah Pemotongan Ayam (RPA) melakukan proses produksi hanya
pada waktu tertentu, maka volume limbah cair yang dihasilkan Rumah
Pemotongan Ayam (RPA) bersifat fluktuatif. Pada saat banyak pesanan ayam
potong, volume limbah cair yang dihasilkan akan semakin banyak. Limbah
cair rumah pemotongan ayam relatif banyak mengandung bahan pencemar
yang didominasi oleh bahan organik dan padatan. Air limbah tersebut dapat
mencemari lingkungan bila dibuang tanpa dilakukan pengolahan terlebih
dahulu. Oleh karena itu, pengolahan air limbah menjadi bagian yang penting
dalam keseluruhan aktivitas operasional usaha/kegiatan industri. Penggunaan
instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang tepat dapat mengurangi
kandungan bahan pencemarnya sehingga telah memenuhi Baku Mutu Air
Limbah (BMAL) yang ditetapkan dan diperkenankan dibuang ke lingkungan.

Ipal RPH

 Agar cemaran tidak melebihi baku mutu air limbah. Baku mutu air limbah bagi usahadan atau kegiatan RPH berdasarkan PeraturanMenteri Lingkungan HidupNo.5Tahun 2014 diantaranya limbah cair memiliki kadar paling tinggiuntuk BOD100 mg/l, COD 200 mg/l, TSS 100 mg/l,minyak dan lemak 15mg/l, NH3-N25mg/ldanpH 6-9 (Kementerian Lingkungan Hidup, 2014). Selain itudengan menentukan kandungan dalam limbah dapatditentukan proses pengolahan limbah yang dibutuhkan . Salah satu penelitian terbaru yang mengolah air limbah secara elektrokoagulasi dilakukan oleh Kobya et al. (2006)menunjukkan bahwa efisiensi penyisihan COD(Chemical Oxygen Demand) 93%.
Selain kandungan kimia sesuai baku mutu padalimbah rumah potong hewan juga terkandung mikroba. Mikroba ini berasal dari feses, urine, isirumen, atau isi lambung, darah, daging atau lemak.

Hasil isolasi yang dilakukan, mikroba yangterkandung dalam limbah cair RPH ayam di antaranya adalah Bacillus subtilis, Bacillus thuringiensis, danLysinibacillus fusiformis(Tantrip dan Thungkao,2011). Bahaya atau risiko yang ditimbulkan sebagai akibat dari aktivitas di RPH yang pengelolaan airlimbahnya kurang sempurna atau tidak adanya instalasi pengolahan air limbah (IPAL) memilikipotensi bahaya, di antaranya adanya bakteri-bakteri patogen penyebab penyakit, meningkatnya kadarBOD, COD, TSS, minyak dan lemak, pH dan NH3-N.

Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukanpenelitian mengenai tingkat cemaran baku mutu air limbah RPH sapi dan ayam

Wa:081223643909

Butuh Bantuan? Contact Via WhatsApp